Ilmu Dihilangkan Dan Kebodohan Merajalela
Yusuf
bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil
Di
antara tanda akan datangnya kiamat lagi ialah akan dihapuskannya ilmu
(tentang Ad-Din) dan merajalelanya kejahilan. Diriwayatkan dalam
Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia
berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya : Di antara tanda-tanda
akan datangnya kiamat ialah dihilangkannya ilmu (tentang Ad-Din) dan
tetapnya kejahilan". (Shahih Bukhari, Kitab Al-Ilm, Bab
Raf'i Al-Ilmi wa Zhuhuri Al-Jahli 1:178, Shahih Muslim, Kitab Al-Ilm, Bab
Raf'i Al-Ilmi wa Qabdhihi wa Zhuhuri Al-Jahli wa Al-Fitan fi Akhir Az-Zaman
16:222)
Imam
Bukhari meriwayatkan dari Syaqiq, katanya : Saya pernah bersama-sama dengan
Abdullah dan Abu Musa, mereka berkata : Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda :
"Artinya : Sesungguhnya menjelang
datangnya hari kiamat akan ada hari-hari diturunkannya kejahilan dan
dihilangkannya ilmu (Ad-Din)". (Shahih Bukhari, Kitab Al-Fitan, Bab
Zhuhuri Al-Fitan 13:13)
Dan
diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Haurairah Radhiyallahu 'anhu, ia
berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya : Jangka waktu akan
semakin dekat, ilmu (tentang Ad-Din) akan dihilangkan, fitnah akan
merajalela, penyakit kikir akan dicampakkan (dalam hati), dan peperangan
akan banyak terjadi". (Shahih Muslim, Kitab Al-Ilm, Bab
Raf'i Al-Ilm 16 : 222-223)
Ibnu
Baththal berkata : "Tanda-tanda akan datangnya kiamat yang dikandung
dalam hadits ini telah kita lihat dengan jelas, yaitu ilmu tentang Ad-Din
telah berkurang, kebodohan merajalela, penyakit kikir telah dicampakkan
dalam hati banyak orang, fitnah merajalela, dan peperangan banyak
terjadi". (Fathul Bari 13:16)
Al-Hafizh
Ibnu Hajar mengomentarinya demikian : "Yang nampak, bahwa di antara
tanda-tanda tersebut yang disaksikannya itu memang banyak terjadi di
samping adanya keadaan yang merupakan kebalikan dari itu. Dan yang dimaksud
oleh hadits tersebut ialah dominannya hal-hal itu sehingga tidak ada yang
tidak demikian melainkan sangat jarang. Inilah yang ditunjuki oleh hadits
dengan ungkapannya 'dihilangkan ilmu (Ad-Din)', maka yang tinggal
hanyalah kebodohan. Namun hal ini tidak mencegah kemungkinan adanya
segolongan ahli ilmu, karena pada waktu itu golongan tertutup di
tengah-tengah masyarakat yang jahil tentang ilmu Ad-Din". (Fathul-Bari
13:16)
Dan
penghapusan ilmu Ad-Din ini ialah dengan kematian para ulamanya.
Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash
Radhiyallahu 'anhu, ia berkata : saya mendengar Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya : Sesungguhnya Allah
tidak mencabut ilmu (tentang Ad-Din) dengan serta merta dari hamba-hamba-Nya,
tetapi Dia mencabut ilmu dengan mematikan para ulama. Sehingga apabila
tidak ada lagi orang yang alim (mengerti tentang Ad-Din), maka
orang-orangpun mengangkat pemimpin-pemimpin yang jahil, lantas mereka
ditanya, kemudian memberikan fatwa tanpa berdasarkan ilmu, sehingga mereka
sendiri sesat menyesatkan (orang lain)". (Shahih
Bukhari, Kitab Al-Ilm, Bab Kaifa Yuqbadhu Al-Ilm 1:94, Shahih Muslim, Kitab
Al-Ilm, Bab Raf'i Al-Ilm wa Qabdhihi wa Zhuhuri Al-jahl wa Al-Fitan 16:
223-224)
Imam
Nawawi berkata : "Hadits ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan
mencabut ilmu (sebagaimana yang tersebut dalam hadits-hadits di muka secara
mutlak) bukanlah menghapuskannya dari dada (hati) para penghafalnya.
Tetapi, yang dimaksud ialah dengan matinya para pemilik ilmu tersebut.
Lantas manusia mengangkat orang-orang yang jahil untuk menghukum
(menetapkan dan memutuskan hukum) dengan kejahilannya sehingga mereka
sendiri sesat dan menyesatkan orang lain". (Syarah Muslim 16:223)
Yang
dimaksud dengan ilmu di sini ialah ilmu tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah,
yaitu ilmu yang diwarisi dari para Nabi, karena para ulama adalah pewaris
(yang mewarisi) para Nabi. Dengan lenyapnya para ulama maka lenyap pulalah
ilmu (tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah). Sunnah mati, bid'ah-bid'ah
bermunculan, dan kejahilan merajalela. Adapun ilmu tentang keduniaan, maka
ia semakin bertambah dan ia bukan yang dimaksud dalam hadits-hadits
tersebut. Persepsi ini didasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam :
"Artinya : Lalu mereka ditanya,
lantas mereka memberi fatwa tanpa berdasarkan ilmu, sehingga mereka sesat
dan menyesatkan orang lain".
Sedang
kesesatan itu hanya terjadi karena kejahilannya terhadap Ad-Din
(agama). Dan ulama yang sebenarnya ialah ulama yang mengamalkan (menerapkan)
ilmu dan mengarahkan dan menunjukkan umat ke jalan yang lurus dan petunjuk.
Karena ilmu tanpa amal itu tidak ada faedahnya, bahkan menjadi bencana bagi
pemiliknya. Dan disebutkan dalam Shahih Bukhari dengan lafal:
"Artinya : Dan amal pun
berkurang".
(Shahih Bukhari, Kitab Al-Adab, Bab Husnil Khuluq was-Sakha' wa Maa Yukraha
min Al-Bukhl 10:10; 456)
Sejarawan
Islam, Imam Adz-Dzahabi, setelah menyebut segolongan ulama, beliau berkata,
"Dan mereka tidak diberi ilmu melainkan hanya sedikit. Dan sekarang
tidak ada yang tersisa dari ilmu-ilmu yang sedikit itu melainkan sedikit
sekali yang ada pada orang yang jumlahnya sedikit. Alangkah sedikitnya
orang yang mengamalkan ilmu yang sedikit itu. Semoga Allah mencukupi kita,
dan Dia-lah sebaik-baik Pengurus". (Tadzkiratul-Huffazh 3: 1031)
Kalau
keadaan pada zaman Imam Adz-Dzahabi saja demikian, maka bagaimana lagi
dengan zaman kita sekarang ini ? Sesungguhnya semakin jauh zaman itu dari
zaman kenabian maka semakin sedikitlah ilmu tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah
dan semakin banyak kebodohan. Karena, para sahabat Radhiyallahu anhum
adalah orang-orang yang paling mengerti di kalangan umat ini, kemudian para
tabi'ut tabi'in, dan mereka inilah sebaik-baik generasi sebagaimana
disabdakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Artinya : Sebaik-baik manusia
ialah generasiku, kemudian orang yang sesudah mereka, kemudian orang yang
sesudah mereka lagi". (Shahih Muslim, Kitab Fadhail
Ash-Shahabah, Bab Fadlish Shahabah Radhiyallahu anhum Tsumma Al-Ladzina
Yaluunahum 16: 86)
Ilmu
tentang Ad-Din itu akan senantiasa berkurang dan kebodohan akan
senantiasa bertambah, sehingga orang tidak tahu lagi apa-apa yang
difardhukan oleh Islam. Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu meriwayatkan, katanya
: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya : Akan hancur Islam ini
seperti hancurnya kain yang telah usang, sehingga tidak diketahui orang
lagi apa itu puasa, apa itu shalat, apa itu ibadah haji, dan apa itu zakat.
Dan terbangkanlah Kitab Allah pada suatu malam, sehingga tidak ada lagi
yang tinggal di bumi satu ayat pun, dan tinggallah beberapa golongan
manusia laki-laki dan wanita yang telah berusia lanjut dan lemah, yang
berkata. 'Kami dapati bapak-bapak kami dahulu mengucapkan kaimat ini : Laa
Ilaaha Ilallah, maka kami mengucapkan kalimat ini".
Maka
Shilat (salah seorang perawi hadits ini) bertanya kepada Hudzaifah,
"Apa gunanya Laa ilaaha illallah kalau mereka tidak tahu lagi apa itu
shalat, apa itu puasa, apa itu haji, dan apa itu zakat ? Lalu Hudzaifah
berpaling tidak menjawabnya. Kemudian Shilat menanyakan lagi sampai tiga
kali, dan Hudzaifah pun selalu berpaling, dan pada kali yang ketiga itulah
Hudzaifah menjawab : "Wahai Shilat, kalimat Laa ilaaha illallah ini
akan dapat menyelamatkannya dari api neraka". Demikian diucapkan oleh
Hudzaifah sebanyak tiga kali. (Sunan Ibnu Majah, Kitab Al-Fitan, Bab
Dzahabi Al-Qur'an wa Al-Ilm 2 : 1344-1345, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak
4:473, dan dia berkata, "Ini adalah hadist shahih menurut syarat
Muslim, hanya saja beliau berdua (Bukhari dan Muslim) tidak
meriwayatkannya". Dan Adz-Dzahabi menyetujui pendapat Al-Hakim. Ibnu
Hajar berkata. "Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang
kuat". Fathul-Bari 13:16. Dan Al-Bani berkata : "Shahih".
Shahih Al-Jami' ASh-Shaghir 6:339, hadits nomor 7933)
Abdullah
bin Mas'ud Radhiyallahu anhu berkata. "Sungguh Al-Qur'an akan dicabut
dari kalian, yaitu ia akan diterbangkan pada suatu malam, hingga ia lenyap
dari hati manusia dan tidak ada lagi yang tinggal di muka bumi". (Riwayat
Thabrani, dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi shahih, kecuali Syaddad
bin Ma'qil, dan dia adalah orang kepercayaan. Majmu'uz Zawaid 7:
329-330. Ibnu Hajar berkata. "Riwayat ini sanadnya shahih, tetapi
mauquf. Fathul-Bari 13:16". Saya (Yusuf bin Abdullah) berkata.
"Isi riwayat seperti ini tidak mungkin diucapkan berdasarkan pikiran
semata-mata, karena itu dihukum marfu".)
Ibnu
Taimiyah berkata. "Al-Qur'an akan diterbangkan pada malam hari dari
mushaf-mushaf dan dari dalam hati pada akhir zaman, maka tidak ada satu pun
kalimat yang tertinggal dalam dada, dan tidak ada satu huruf pun yang
tertinggal dalam mushaf-mushaf". (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 3:
198-199)
Dan
yang lebih besar lagi dari ini ialah akan tidak disebut-sebut lagi lafal
Allah di muka bumi. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits
dari Anas Radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda.
"Artinya : Tidak akan datang
kiamat sehingga di muka bumi tidak diucapkan lagi lafal Allah". (Shahih
Muslim, Kitab Al-Iman, Bab Dzahaabil Iman Akhiruzzaman 2:178)
Ibnu
Katsir berkata : "Terdapat dua pendapat mengenai makna hadits ini,
yaitu :
- Maknanya,
bahwa tak ada lagi orang yang mengingkari kemungkaran dan melarang
orang lain melakukannya. Pengertian ini diambil dari sabda beliau : "....
sehingga tidak ada lagi diucapkan Allah, Allah". sebagaimana
pula yang tertera dalam hadits Abdullah bin Amr : "Maka pada
waktu itu hanya tinggal orang-orang bodoh yang tidak mengerti kebaikan
dan tidak mengingkari kemungkaran". (Musnad Ahmad 11:181-182
dengan syarah Ahmad Syakir. Beliau berkata. "Isnadnya
shahih". Mustadrak Al-Hakim 4: 435, dan beliau berkata. "Ini
adalah hadits shahih menurut syarat Syaikhani (Bukhari dan Muslim)
apabila Al-Hasan mendengarnya dari Abdullah bin Amr". Perkataan Al-Hakim
ini juga disetujui oleh Adz-Dzahabi)
- Sehingga
lafal Allah tidak disebut lagi di muka bumi dan tidak lagi dikenal
nama itu. Hal ini terjadi ketika zaman sudah rusak, nilai kemanusiaan
telah hancur, kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan telah merajalela. (An-Nihayah
fil fitan wal Malahin 1: 186 dengan tahqiq Dr Thaha Zain)
Disalin
dari buku Asyratus Sa'ah, Pasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin
Abdullah bin Yusuf Al-Wabil, MA. edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat
terbitan Pustaka Mantiq, hal. 101-105. Penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs
Zaini Munir Fadholi.
|